“Bang Akbar dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan pikiran, hati, dan tenaga untuk pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam dunia aktivisme, politik, pemerintahan, kemanusiaan, pendidikan, dan keluarga. Kiprahnya yang luas menjadi teladan bagi generasi penerus dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas.”
“Seluruh bentuk pengabdian hidup Bang Akbar dijalaankan dengan keyakinan, ketulusan, integritas, dan kegigihan, sehingga memberikan dampak nyata bagi perkembangan demokrasi, pendidikan politik, dan kehidupan sosial bangsa. Komitmen inilah yang menjadikan beliau sebagai figur penting dalam perjalanan kepemimpinan nasional.”
"Terlatih berpengalaman sebagai aktivis politik saat menjadi pemimpin mahasiswa dan terhubung di dalam GOLKAR, Akbar Tandjung membuktikan dirinya sebagai politisi yang terampil dalam kongres pertama Partai GOLKAR setelah 1998."
(Saiful Mujani, R. william Liddle, and Kuskridho Ambardi. Voting Behavior in Indonesia since Democratization: Critical Democrats. Cambridge University Press, 2018.)
UNIVERSITAS INDONESIA
ORGANISASI KEPEMUDAAN
GOLKAR

Sebagai kampus perjuangan, Universitas indonesia memperkenalkan dunia aktivisme kepada Bang Akbar besama Eksponen 66 untuk memperjuangkan TRITURA : Bubarkan PKI, Rombak Kabinet Dwikora, dan turunkan harga.
Organisasi :
Organisasi :
Organisasi :
Organisasi :

HMI Membentuk jiwa kepemudaan Bang Akbar sebagai Aktivis islam dengan pemikiran yang progresif, jiwa nasionalis, dan jejaring sosial yang beragam.
Organisasi :
HMI

Cak Nur dan Bang Akbar mempresentasikan dua figur teladan dalam memori kolektif HMI. Cak Nur dikenang sebagai pemikir, sementara Bang Akbar sebagai Politisi. namun keduanya disatukan oleh paham Islam yang Inklusif. Hal ini tidak terlepas dari dunia Aktivisme dan Kepemimpinan di HMI. Cak Nur memimpin HMI pada 1966 – 1969 dan 1969 – 1971. Bang Akbar tampil sebagai suksesor Cak Nur untuk memimpin HMI pada 1972 – 1974.

Komitmen kebangsaan, kesadaran kebinekaan dan persahabatan lintas agama dan organisasi tercemin dalam kepemimpinan Bang Akbar di berbagai Ormas kepemudaan.
Organisasi :

Di istana Negara, Presiden Soeharto menerima Bang Akbar sebagai Ketua Umum DPP KNPI (1978 – 1981) dan mengekspresikan kebangsaan atas liprah kepemudaannya. berawal dari HMI dan kelompok Cipayung, Aktivisme di KNPI menjadi tonggak sejarah baru dalam perjalanan Bang Akbar ke Panggung politik nasional. “Sebagai Aktivis HMI, Anda harus menjadi kader bangsa”, pesan Lafran Pane, pendiri HMI, kepada Bang Akbar saat ijin berkiprah di GOLKAR.
Organisasi :
Peran :
Wakil Sekretaris Jendral DPP GOLKAR
Peran :
Peran :
Ketua Dewan Pertimbangan Partai GOLKAR
Peran :
Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai GOLKAR
Peran :
Ketua Dewan Kehormatan Partai GOLKAR
Sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (1988 – 1993), Bang Akbar berhasil mengantarkan para Atlit Indonesia mengukir prestasi gemilang di tingkat dunia. dengan meraih medali perak dalam olahraga panahan di olimpiade Seoul pada tahun 1988 dan meraih dua medali emas pertama Indonesia dalam olahraga Bulu Tangkis di Olimpiade barcelona pada tahun 1992.
Selama menjabat sebagai Ketua DPR RI (1999-2004), Bang Akbar berperan penting dalam mensukseskan agenda reformasi melalu legislasi berbagai perundang-undangan dan sekaligus berperan aktif dalam menjalin kerjasama antar parlemen sebagai Presidenst of Asean Inter Parliametary Organization (2002-2003) dan President Of Parliamentary Union OIC Member (2003-2004)
Sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat (1993-1998), bang Akbar memberdayakan fungsi berbagai Stakeholders, mulai darai perumahan nasional, bank BUMN seperti BTN, real Estate indonesia, pihak pengembangan swasta, sampai pemerintah daerah, agar bergotong royong dalam mewujudkan pembangunan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Bang Akbar berhasil melampui target pembangunan rumah sederhana, dari target awal 500.000 menjadi 600.000 unit. Presiden Suharto sendiri meresmikan pembangunan rumah sederhana itu sebagai bukti atas kesuksesan pembangunan nasonal.
Terpilih sebagai ketua umum golkar (1998 – 2004) saat partai sedang dilanda badai kritikan dan hujatan, Bang Akbar berhasil melakukan perbaruan politik melalui paradigma baru partai Golkar yang bertumpu pada kemandirian, Reformasi dan kerakyatan. Dengan artikulasi politik yang santun, disiplin kerja yang tinggi dan kepemimpinan yang humanistic. Sang Begawan Politik berhasil bukan hanya dalam mempertahankan eksistensi partai Golkar sebagai pemenang kedua, setelah PDIP pada pemilu 1999, tetapi juga dalam mengembalikan kejayaan Partai Golkar untuk menjadi pemenang pertama pada pemilu 2004.
Bang Akbar dan Nina Tandjung berdiri di garda terdepan dan saling bergandeng tangan untuk mempertahankan kehormatan, eksistensi dan kejayaan Partai Golkar
Bang Akbar tampil sebagai pelopor konvensi yang inovatif sebagi mekanisme politik yang terbuka dan demokrasi untuk menjaring calon Presiden terbaik Partai Golkar. Dengan jiwa ksatria, Bang Akbar berpidato bahwa konvensi telah berjalan secara demokratis melaluli pengungutan suara secara rahasia dan mengajak semua pihak untuk mendukung penuh Jendral Wiranto sebagai calon Presiden Golkar pada tahun 2004