Akbar Tandjung Institute

81 Tahun Sesudah Kemerdekaan Diproklamasikan: Indonesia Berada di Mana?

SKPB XV - Seri 1

Share This Post

81 Tahun Sesudah Kemerdekaan Diproklamasikan: Indonesia Berada di Mana?

Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada 17 Agustus 1945. Pertanyaan mendasar pun muncul: Setelah 81 tahun merdeka, Indonesia sebenarnya berada di mana? Bukan sekadar letak geografis di peta dunia, melainkan posisi bangsa ini dalam perjalanan sejarah, kemajuan peradaban, kemandirian ekonomi, dan kualitas kehidupan berbangsa.

Pertanyaan ini menjadi tema utama dalam sesi pembukaan Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa (SKPB) Seri 1 Akbar Tandjung Institute yang diselenggarakan secara daring pada Kamis, 10 September 2026. Acara ini menghadirkan narasumber utama Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ — filsuf dan tokoh pemikir kebangsaan yang telah mengikuti perjalanan Indonesia selama lebih dari enam dekade — serta didampingi para pengurus dan pengajar SKPB.

🎯 Narasumber dan Penyelenggara

Peran Nama
Pemateri Utama Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ
Pendiri AT Institute Dr. Ir. Akbar Tandjung
Kepala SKPB Dr. M. Alfan Alflan, M.Si.
Direktur Eksekutif Prof. Dr. Puji Wahono
Direktur Program Dr. Agustian B. Prasetya
Moderator Ramali, S.Sos.
Pembawa Acara M. Rizky Ramdhani

🔹 Mengapa Pertanyaan “Berada di Mana?” Menjadi Penting Saat Ini?

Usia 81 tahun kemerdekaan bukan sekadar angka. Ini adalah momen bercermin: sejauh mana cita-cita Proklamasi telah diwujudkan? Para pendiri bangsa berjuang agar Indonesia menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Namun di usia ke-81, masih terdapat kesenjangan antara harapan Proklamasi dan kenyataan yang dirasakan rakyat.
Hanya tersisa sekitar 19 tahun menuju 2045, saat Indonesia genap berusia satu abad. Apakah kita akan mencapai visi Indonesia Emas 2045, atau justru terjebak dalam stagnasi? Inilah yang mendorong SKPB AT Institute mengangkat tema ini sebagai bahan refleksi kebangsaan.

🔹 Pandangan Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ

Sebagai pengamat yang telah menyaksikan perjalanan Indonesia dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi, Romo Magnis — demikian beliau akrab disapa — menekankan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memanusiakan manusia Indonesia.
Beliau mengemukakan beberapa pokok pikiran:
  1. Kemerdekaan yang Belum Sempurna: Secara politik dan teritorial Indonesia memang merdeka sejak 1945. Namun secara ekonomi, kemandirian, dan pemerataan kesejahteraan, kemerdekaan itu belum sepenuhnya dirasakan seluruh rakyat. Masih banyak warga yang belum terbebas dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbatasan akses pelayanan dasar — persis seperti yang diperingatkan Presiden Soekarno.
  2. Pancasila sebagai Kompas: Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan landasan etika bernegara. Jika Pancasila benar-benar diamalkan, maka keadilan sosial, persatuan, dan kemanusiaan akan terwujud. Tantangannya saat ini: semakin sering Pancasila diucapkan, semakin jarang dipraktikkan dalam kehidupan nyata.
  3. Ancaman Nyata: Korupsi, ketimpangan sosial, lemahnya penegakan hukum, serta merosotnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara menjadi tantangan serius. Demokrasi dan hak asasi manusia hasil Reformasi terancam oleh praktik oligarki, kepentingan segelintir kelompok, dan melemahnya kontrol sosial.
  4. Tantangan Generasi Penerus: Perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan fisik ternyata jauh lebih mudah dibandingkan perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidakpedulian sesama anak bangsa. Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat menentukan.

🔹 Refleksi dan Tanggapan Diskusi

Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat, para peserta dan pengajar SKPB menyoroti beberapa hal penting:
  • Posisi Indonesia di Kancah Global: Indonesia kini menjadi negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia. Namun kekuatan itu belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang merata, kemandirian teknologi, dan kualitas sumber daya manusia yang setara dengan negara maju.
  • Pembangunan yang Belum Merata: Kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok masyarakat masih terasa nyata. Pembangunan sering terpusat di pulau Jawa sementara wilayah lain belum mendapat perhatian yang seimbang.
  • Kualitas Demokrasi: Pemilihan umum sudah berjalan rutin, namun kualitas demokrasi masih perlu ditingkatkan. Kesadaran politik masyarakat harus disertai pendidikan kebangsaan yang mendalam agar lahir pemimpin-pemimpin yang berintegritas dan berwawasan luas.
  • Peran SKPB: Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa hadir untuk menjawab tantangan tersebut — membentuk kader-kader pemimpin yang tidak hanya cakap secara politik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan, integritas moral, dan kepekaan terhadap nasib rakyat.

✅ Kesimpulan

Setelah 81 tahun merdeka, jawaban atas pertanyaan “Indonesia berada di mana?” dapat dirangkum sebagai berikut:
Indonesia berada di tengah perjalanan yang belum selesai. Kita telah berjalan jauh dan meraih banyak kemajuan. Namun tujuan luhur yang dicita-citakan para pendiri bangsa — terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, beradab, dan sejahtera — belum sepenuhnya tercapai. Kita belum tiba, dan waktu semakin sempit menuju 2045.
Pertanyaan “di mana” sesungguhnya adalah panggilan untuk bergerak lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih bersatu. Kemerdekaan yang diraih dengan pengorbanan besar tidak boleh hanya diwarisi sebagai gelar semata, melainkan harus terus diperjuangkan, diisi, dan dimajukan oleh setiap generasi.

Berita Lainnya :